Rabah Bengkinang


Makna ungkapan dialek Banjar Rabah Bengkinang.

Berdasarkan penelusuran (google), ungkapan. 

Rabah Bengkinang dalam dialek Banjar merujuk pada situasi di mana seseorang jatuh tersungkur atau jatuh terjerembab dengan posisi tubuh yang mengenaskan atau tidak beraturan, seringkali karena tersandung atau kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba. 

Rabah: Artinya jatuh, rebah, atau roboh.

Bengkinang/Bangkihang: Sering dikaitkan dengan posisi terjatuh yang tidak enak dilihat, jatuh telungkup, atau jatuh terjerembab.

Secara figuratif, ungkapan ini menggambarkan seseorang yang jatuh dengan posisi yang sangat memalukan atau terduduk/tertelungkup dengan posisi yang tidak pantas (seperti tersungkur). 

(Catatan: Ungkapan ini umumnya digunakan dalam percakapan sehari-hari di Kalimantan Selatan, khususnya dalam dialek Banjar Hulu). 

(Foto: istimewa) 

Sementara, arti secara umum Bangkinang adalah Buah. 

Buah Bangkinang adalah buah khas Kalimantan yang tumbuh liar di tepi sungai, kini semakin langka akibat deforestasi. 

Buah ini berwarna kuning saat matang (merah saat matang sempurna), rasanya manis-asam, sedangkan yang muda terasa sepat.

Sering diolah menjadi sayur "palan buluh bangkinang" atau dikonsumsi langsung. 

Ciri-ciri dan Penggunaan Buah Bangkinang:

Karakteristik: Buah hutan yang tumbuh di pohon keras setinggi 30 meter, sering ditemui di tepi sungai di hutan Kalimantan.

Rasa dan Warna: Kuning cerah (mentah/tua) hingga kemerahan (matang sempurna). Rasanya manis bercampur asam saat matang, dan sepat saat mentah.

Pemanfaatan: Bisa dimakan langsung atau diolah menjadi masakan khas, salah satunya "palan buluh bangkinang" (sayur yang dimasak dalam bambu).

Status: Semakin langka karena deforestasi, dulu sering ditemui di era 1980-an.

Manfaat: Dipercaya dapat membantu melancarkan pencernaan. 

Buah ini sering disamakan dengan buah hutan Kalimantan lainnya, namun memiliki ciri khas tersendiri dengan kulit yang berubah warna seiring kematangan. 

Nah. Sekarang masuk ke inti kesahnya yang handak kukesahkan. 

Aku pertama kali mendangar ungkapan Rabah Bengkinang ini dari Abahku. "Nah Rabah dah Bengkinangnya."

Aku paham maksud sidin, ada makna berisi nasehat dan sindiran. 

Panjang pang kesahnya, tapi, intinya ja kukisahkan yang aku pahami, singkatnya ky ini. 

Ungkapan Rabah Bengkinang itu saat orang kada bisi kekuasaan lagi, kada bisi kekuatan lagi, kada bisi wibawa lagi, kada beduit lagi, kada bisi dahi lagi. Intinya keliatan kada beguna lagi di tengah masyarakat. 

Karena saat berkuasa (dipinjami/diberi kekuasaan) di antara kelakuannya, inya begeteng, waluh, mansur, kukut darau, kaya kekanakan, sombong, koyo, kisah paharatnya, pandiran tinggi, pemalar, kada bemoral, dan jahat. 

Mudah-mudahan kena pas kita (diberi/dipinjami) kekuasaan dan sugih, kita kada kaya itu. 

(Saat berkuasa) kita beguna di keluarga dan di tengah masyarakat (kada bapilih), membina masyarakat (sasuai lawan kebisaannya) , membantu mengatasi persoalan masyarakat, menyejahterakan masyarakat, membela kebenaran dan keadilan masyarakat. 

(IWAN) 





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rabah Bengkinang"

Posting Komentar